Beranda Perkara Hotman Paris Kritis Kehadiran Jaksa Kasus Sambo di Sidang Teddy Minahasa

Hotman Paris Kritis Kehadiran Jaksa Kasus Sambo di Sidang Teddy Minahasa

55

JAKARTA – Hotman Paris Hutapea selaku penasihat hukum mantan Kapolda Sumatra Barat Teddy Minahasa, mengkritisi kehadiran jaksa kasus Ferdy Sambo yang menjadi penuntut umum dalam sidang kliennya tersebut.

Mulanya Hotman bertanya apakah ada pergantian tim di pihak penuntut umum. Hotman mengaku mendengar terjadi penggantian jaksa-jaksa yang diturunkan oleh Kejaksaan Agung.

“Tolong majelis, kami berhak tahu, hanya pengen tahu aja surat tugasnya apakah benar itu, sebagian saya lihat ini jaksa dari kasus Sambo. Kami hanya pengen tahu aja Pak, ini timnya dari mana, Kejaksaan Agung semua ini diterjunkan,” ujar Hotman, Senin (20/2/2023).

Majelis hakim pun bertanya apakah ada penambahan tim atau pergantian tim di pihak jaksa penuntut umum.

Penuntut umum kemudian menjelaskan ketentuan dalam Pasal 1 angka 3 Undang-undang 11 Tahun 2021 tentang Kejaksaan RI.

“Kami semua yang hadir di muka persidangan saat ini adalah penuntut umum. Lebih lanjut pula di Pasal 2 nya, diatur bahwa jaksa itu satu yang tidak terpisahkan,” ujar jaksa.

Majelis hakim lalu meminta penuntut umum untuk menujukan surat tugasnya.

Namun, penuntut umum menilai pertanyaan penasihat hukum tidak relevan. Majelis hakim kembali meminta penuntut umum memberikan nama-nama dari pihaknya.

“Prinsipnya tidak kepeberatan kehadiran penuntut umum dalam persidangan ini, kami perlu kepastian beritahu nama namanya atau identitasnya kepada kami,” ujar hakim.

Penuntut umum pun langsung menujukan berkas di hadapan majelis hakim. Pihak penasihat hukum ikut menyaksikan.

“Jadi jaksanya ada 19 orang. Yang hadir di sini ada 10. Baik kalau demikian, kita lanjutkan proses persidangan. Terdakwa pindah ke samping kanan penasihat hukumnya.” ujarnya.

Persidangan dengan agenda pemeriksaan saksi pun dilanjutkan.

Teddy Minahasa didakwa memperjualbelikan barang bukti sabu hasil sitaan Polres Bukittinggi sebanyak 5 kilogram (kg).

AKBP Dody Prawiranegara, Kompol Kasranto, Aiptu Janto P. Situmorang, Linda Pujiastuti, Muhammad Nasir, dan Syamsul Maarif juga menjadi terdakwa dalam kasus ini.

Menurut jaksa, kasus ini bermula pada 14 Mei 2022. Saat itu Polres Bukittinggi mengungkap peredaran narkoba dan menyita barang bukti jenis sabu seberat 41,387 kg.

Dody saat itu menjabat sebagai Kapolres Bukittinggi melaporkan kasus ini kepada Teddy Minahasa yang menjabat Kapolda Sumatera Barat.

Teddy memerintahkan Doddy untuk dibulatkan menjadi seberat 41,4 kg. Selain itu, Teddy juga meminta agar Dody menukar sabu barang bukti itu sebanyak 10 kg.

Tinggalkan Balasan